HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Log in
Username:
Password:
Log in automatically: 
:: I forgot my password
Latest topics
» Film Horror
Tue Feb 15, 2011 5:14 pm by thebiest

» DoTA Allstars
Sun Sep 19, 2010 8:15 pm by GondarLoverz

» Absensi
Wed Jul 07, 2010 7:37 am by Rimen_Chen

» Kumpulan Cerita2 yg Menyentuh
Fri Jun 04, 2010 11:19 am by vera

» HOT Fakta atau Gossip
Fri Jun 04, 2010 11:08 am by vera

» loe lagi seneng lagu apa sekarang??
Fri Jun 04, 2010 11:03 am by vera

» Saran n Kritik
Fri Jun 04, 2010 11:02 am by vera

» Dear Confeito
Fri Jun 04, 2010 11:01 am by vera

» Kumpulan cerita2 seputar conpetto (KuCerSeCon)
Sat Mar 13, 2010 6:57 am by Rimen_Chen

Poll
Masih pada hidup kagak ?
Masih
92%
 92% [ 11 ]
Kagak
8%
 8% [ 1 ]
Total Votes : 12
Top posters
Johdy
 
Rimen_Chen
 
fishball
 
zagayo
 
vera
 
ep_petrus
 
Vans
 
Angela
 
bewe
 
febbry01
 
Today’s Devotion
Kharisma dapat membawa kita ke puncak tapi hanya karakter yang dapat mempertahankannya
Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu
Ketika kita gagal merencanakan masa depan, sebenarnya hidup kita juga sedang menuju masa depan yang gagal
Jangan mengatakan kepada Tuhan bagaimana besarnya masalahmu. Katakanlah kepada masalahmu bagaimana besarnya Tuhanmu
Begin with heart, play with love, finish it with faith
Kasih sejati teruji saat kita tetap bersukacita ketika orang lain tidak membalas kasih yang kita berikan
Dunia tidak butuh kata-kata diplomasi, tetapi kata-kata sederhana yang membuat orang lain merasa dihargai
Orang yang tidak mau mengampuni akan hidup dalam penjara hatinya, tetapi orang yang mau mengampuni akan hidup dengan jiwa yang merdeka
Detik ini juga kamu sedang menulis kisah petualanganmu di kitab kehidupan
Dunia boleh berkata kita bukan siapa-siapa, tetapi kita harus berani berkata bahwa kita sudah ditentukan Tuhan untuk mewarnai dunia dengan hidup kita
Keterbukaan adalah awal dari pemulihan
Betapa sulitnya melihat sisi positif orang lain ketimbang sisi negatifnya, tetapi belajarlah memahami karena setiap orang pasti punya dua hal tadi
jadikan masalah adalah sebuah mainan yang disukai oleh anak-anak dan mainkan mainan itu dalam hidupmu
Tidak ada kata terlambat untuk kembali, bangkit, bertobat, dan membangun kembali kehidupan rohani kita
Jangan sekedar membicarakan apa yang akan kamu lakukan, tetapi lakukanlah terlebih dahulu apa yang akan kamu bicarakan !!
Bersikaplah rendah hati sebab kerendahan hati adalah kunci kemenangan
Letak kesempurnaan manusia adalah ketika ia bisa membuat orang lain merasa dihargai
Yesus lebih memilih pergi ke neraka untukmu, daripada kembali ke Sorga tanpamu
Kita tidak akan pernah bisa merubah masa lalu, tetapi kita punya banyak peluang untuk merubah masa depan kita
Dikasihi orang lain adalah hak orang lain, tetapi mengasihi orang lain adalah kewajiban dari kita sendiri
Dosa yang tidak dapat diampuni adalah dosa tidak mengampuni
Keputusan yang benar dari seorang pemimpin sanggup mengubah seluruh orang yang berada di bawah kepemimpinannya
Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan
Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang
Dalam menghadapi konflik, yang terpenting bukanlah benar atau salah, yang terpenting adalah respon
Lebih baik sakit di telinga mendengar teguran, daripada sakit sepanjang hidup karena ketidaktaatan
Orang sinis adalah orang yang paling tidak bisa menikmati kehidupan karena segala sesuatu tampak buruk
Pelayanan adalah sebuah kado yang Tuhan berikan ketika kita mempunyai hubungan yang dekat ama Tuhan
Pergunakan doa yang tepat di saat yang tepat untuk sesuatu yang tepat
Pelayanan yang luar biasa belum tentu menghasilkan hubungan yang intim dengan Tuhan. Tapi Hubungan yang intim dengan Tuhan akan menghasilkan pelayanan yang luar biasa
Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan
Tantangan terbesar dalam iman adalah mendengar dan melihat Tuhan saat badai hidup datang
Kamu seorang pemenang, waktu kamu berani bayar harga untuk berdiri pada kebenaran
You Can If You Think You Can
Membantu Tuhan dengan cara kita, akan menghambat rencanaNYA terjadi dalam hidup kita
Tanpa ada pengorbanan, tidak ada kemenangan. Tanpa ada pengorbanan dari Tuhan Yesus, mustahil manusia dapat diselamatkan
Tuhan menghembuskan nafasNya kepada manusia sehingga manusia menjadi hidup. Karena itu, kita tidak bisa hidup menjauh dari Tuhan, sebab Dialah sumber kehidupan kita
Teman yang paling baik bagi PENANTIAN adalah KESABARAN
Seseorang belum bisa diuji kesetiannya kalau dia belum menghadapi situasi di mana dia harus memilih untuk setia atau tidak
Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.
Bersikaplah lemah lembut sebab kelemahlembutan dapat mengalahkan hati yang sekeras apapun
Who is online?
In total there is 1 user online :: 0 Registered, 0 Hidden and 1 Guest

None

Most users ever online was 47 on Fri Oct 25, 2013 10:32 pm
Search
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search

Share | 
 

 Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi

Go down 
Go to page : 1, 2, 3, 4  Next
AuthorMessage
zagayo
Vice Webmaster
Vice Webmaster
avatar

Number of posts : 546
Age : 29
Location : Kemanggisan, Jakbar
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Fri Nov 02, 2007 10:07 pm

Bagi yg Kristen/non-Kristen, ap pendapat kalian ttg bhs roh/bhs lidah atau kerennya speaking in tounge(bnr g sih tulisnya???)
Back to top Go down
View user profile http://profiles.friendster.com/zagayo
fishball
Webmaster
Webmaster
avatar

Number of posts : 656
Age : 29
Location : Curva Nord
Reputation :
99 / 10099 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Fri Nov 02, 2007 10:38 pm

maksud loe ga mau nimbulin kontroversi. . kita liat bisa terwujud ga hmm 8) 8)

menurut gw, bahasa roh mah buat orang kristen kharismatik doang. . n yang biasanya kharismatik tu lebi "fanatic". . IMO

_________________


My Japanese name is : Saruwatari Takeshi (猿渡鷹志)
Back to top Go down
View user profile http://confeito.forumotion.com
Rimen_Chen
Admin
Admin
avatar

Number of posts : 707
Age : 29
Location : Sydney,NSW,Australia
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-18

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sat Nov 03, 2007 10:11 am

"Tounge"????? :scratch: :scratch:

TONGUE..!!! Hahaha...


Ok..Menurut saya seh, bahasa Roh tsb adalah karunia dari Tuhan...Alias tidak semua orng bisa mendapatkannya,yah karena bukan karunia dia..,Hehhee...

Trus, bahasa ROh itu bisa keluar kolo2 org tsb tiba2 dijamah Roh Kudus pada saat ibadah (penaikkan puji2an...)

And menurut w, bahasa Roh tidaklah sesuatu yang wajib badi setiap ibadah yang sering ditekankan gereja Kharismatik..Karena ini karunia, bukan sesuatu yang boleh dibuat2...So, mgkn afeb bole cb memberi pendapat berhubung afeb di Kharismatik..Hehehehe....

Bagaimana pendapat u feb? :silent:
Back to top Go down
View user profile
fishball
Webmaster
Webmaster
avatar

Number of posts : 656
Age : 29
Location : Curva Nord
Reputation :
99 / 10099 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sat Nov 03, 2007 4:13 pm

afeb lg jj keluar negeri tuh enak kali dia huh. .

_________________


My Japanese name is : Saruwatari Takeshi (猿渡鷹志)
Back to top Go down
View user profile http://confeito.forumotion.com
zagayo
Vice Webmaster
Vice Webmaster
avatar

Number of posts : 546
Age : 29
Location : Kemanggisan, Jakbar
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sat Nov 03, 2007 10:47 pm

wahhh.........

enak kali kau feb..
huh.. :lol!: :lol!: :lol!: :lol!:
Back to top Go down
View user profile http://profiles.friendster.com/zagayo
Raffin
Confeito Soldier
Confeito Soldier


Number of posts : 21
Age : 28
Reputation :
0 / 1000 / 100

Registration date : 2007-10-17

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sat Nov 03, 2007 11:30 pm

Menurut w sih berbahasa Roh tu bukan cuma orang2 tertentu yang bisa. Sebelum Yesus naik ke surga, Dia menjanjikan akan memberikan penolong untuk mereka yang percaya yaitu Roh Kudus sehingga kita kenal adanya Hari Pentakosta dimana murid2 Yesus bisa berbahasa Roh. Nah kita juga sama dengan menerima Yesus maka kita akan diselamatkan, tapi untuk hidup dalam kekristenan tuh kita perlu bantuan Roh Kudus sebagai penolong. Karena tu kita perlu menerima Roh Kudus atau istilahnya baptis roh. Setelah kita menerima Roh Kudus kita bakal menerima bahasa baru yaitu bahasa roh ato dalam bahasa inggris to speak in tongue.

Dalam Kisah Para Rasul 10:38 dikatakan bahwa Allah mengurapi Yesus dengan Roh Kudus di dalam pelayanan-Nya di bumi. Ayat lain Di dalam Alkitab masih byk ayat2 laen yg menyatakan bahwa berbahasa Roh tu penting. Bahwa setiap orang yang percaya tuh bisa berbahasa roh. Bahkan bahasa roh tuh merupakan salah satu basic dari spiritual gift dimana baby Christian pasti bisa.

W sendiri seh baru dapat sebulan ato dua bulan yang lalu. Dan w mempelajari tentang Roh Kudus tu di Bible Study Getting Started. Bukan berarti bahasa roh bisa dipelajari, tapi w belajar tentang bagaimana kita dibaptis roh en manfaat berbahasa roh. Nah manfaat berbahasa roh itu adalah:
1. Kita berbicara langsung dengan Tuhan
2. Kita membangun spiritual kita sendiri
3. Sebagai ucapan syukur pada Tuhan
4. Kita mengizinkan Roh Kudus untuk turut campur dalam kehidupan kita
5. Kita memperoleh penyegaran dan beristirahat di dalam Tuhan
6. Kita membangun iman kita

Dalam 1 Korintus 14:18 Rasul Paulus mengatakan bahwa dia bersyukur kepada Tuhan bahwa ia berbahasa roh lebih sering daripada kamu smua. Rasul Paulus ja perlu bahasa roh apalagi kita. Jadi jangan memikirkan bahwa bahasa roh tu cuma untuk orang2 tertentu ja. Satu lagi bahasa roh tu bukan cuma bisa katakan waktu merasa dipenuhi Roh Kudus ato wkt worship. Waktu kita berbahasa roh itu kita dalam keadaan sadar kok. Dan kapan ja kita bisa mengucapkannya. He2 jadi jgn ragu untuk berbahasa roh. Ok!! Kalo ada pertanyaan silakan tanya.He2
Back to top Go down
View user profile
zagayo
Vice Webmaster
Vice Webmaster
avatar

Number of posts : 546
Age : 29
Location : Kemanggisan, Jakbar
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sat Nov 03, 2007 11:39 pm

sep2.....

yg laen mana???

nungguin afeb neh...

:flower: :flower: :flower: :flower:
Back to top Go down
View user profile http://profiles.friendster.com/zagayo
fishball
Webmaster
Webmaster
avatar

Number of posts : 656
Age : 29
Location : Curva Nord
Reputation :
99 / 10099 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sat Nov 03, 2007 11:56 pm

nice explanation raf. . rupanya gitu artinya to speak in tounge

wakakkakak kabur dulu gw sebelom dibunuh acen

_________________


My Japanese name is : Saruwatari Takeshi (猿渡鷹志)
Back to top Go down
View user profile http://confeito.forumotion.com
zagayo
Vice Webmaster
Vice Webmaster
avatar

Number of posts : 546
Age : 29
Location : Kemanggisan, Jakbar
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sun Nov 04, 2007 1:59 am

[url] http://www.tftwindo.org/livingwords/LW18.htm [/url]

JFYI(juz 4 ur information) -> gw pun blom baca, jd jgn protes yah ... haha.. males gw baca panjang gini


Sabda Hidup (April-Juni 2004)
Bahasa Lidah
(Tongue Speaking)

Praktek bahasa lidah (bahasa roh) hanya terjadi di zaman Perjanjian Baru, tepatnya pada abad pertama. Kitab-kitab Perjanjian Baru memberikan catatan kapan, dimana dan siapa yang mendapatkan karunia bahasa lidah. Pertama kali di Yerusalem pada hari Pentakosta, rasul-rasul menerima karunia ini secara langsung ketika Roh Kudus turun ke atas mereka (Kisah Rasul 2:1-11); Kornelius dan seisi rumahnya di Kaisarea (Kisah Rasul 10) sebagai kegenapan dari nubuatan nabi Yoel(Yoel 2:28); murid-murid Yohanes Pembaptis di Efesus melalui penumpangan tangan Rasul Paulus (Kisah Rasul 19); dan orang-orang Kristen di Korintus (1 Korintus 12 – 14).

Apakah Bahasa Lidah Itu?

Bahasa lidah bukanlah bahasa surgawi, bukan bahasa malaikat, bukan perkataan yang diucapkan dalam keadaan tak sadarkan diri, bukan perkataan yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang terpelajar saja, atau bahasa yang tidak berarti apa-apa, seperti yang dipercayai oleh beberapa orang.

Gary W. Summers mengutip kata-kata yang ditulis oleh James Rado dan Gerome Ragni dalam buku berjudul “Good Morning, Starshine, 1969 Oliver hit, yang berbunyi: “Gliddy glup gloopy nibby nabby noopy la la la lo lo. Sabba sibby sabba nooby abba nabba le le lo lo. Tooby ooby walla nooby abba nabba, early morning singing song (pagi buta menembangkan lagu).” Menurut Gary, kata-kata ini tidak lebih daripada suku kata yang tidak berarti apa-apa dan bukan bahasa yang nyata dan dapat dimengerti.1

Dalam bahasa Inggris kata-kata di atas disebut dengan istilah “gibberish” yang berarti ”perkataan yang cepat dan tidak jelas”; “bahasa yang tidak masuk akal”; “kata-kata yang tidak mengandung arti”; “perkataan yang mengalir lancar dan bodoh.2 Bahasa lidah adalah bahasa manusia yang memiliki makna dan dimengerti.

Webster’s New International Dictionary mendefenisikan bahasa sebagai “tubuh kata-kata dan metode penggabungan kata-kata yang dipakai dan dimengerti oleh suatu kelompok masyarakat.”3 Berarti bahasa adalah sarana untuk berkomunikasi antar manusia.

Paulus mengatakan bahwa “Ada banyak -- entah berapa banyak -- macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti” (1 Korintus 14:10).

Dalam bahasa Ibrani bahasa adalah “leshonah” yang paling sering diterjemahkan “lidah”, yang ditujukan pada salah satu anggota tubuh yang menghasilkan perkataan (Hakim-hakim 7:5; 2 Samuel 23:2) atau juga “bahasa” (Ester 1:22; 3:12; Yeremia 5:15; Yehezkiel 3:5,6). Kata Ibrani, leshonah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, “glossa” (bdg. Yesaya 28:11 dan 1 Korintus 14:21). Glossa juga berarti “lidah”, salah satu anggota tubuh (Markus 7:33,35), “lidah-lidah seperti nyala api” (Kisah Rasul 2:3), atau “bahasa” (Kisah Rasul 2:4,11; 10:46; 19:6).

Kalau kita lihat dalam Kisah Rasul 2:4-11, para rasul berbicara dalam berbagai-berbagai bahasa secara ajaib. Di dalam ayat 6, orang-orang yang hadir pada hari Pentakosta itu masing-masing mendengar para rasul berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Bahasa yang terdapat dalam Kisah Rasul 2:4, 11, jelas adalah bahasa pribumi para penganut agama Yahudi yang datang untuk merayakan hari raya Pentakosta di Yerusalem.4

Lester Kamp mendefenisikan karunia berbahasa lidah sebagai “kemampuan untuk berkata-kata dalam bahasa yang dapat dimengerti orang, tetapi sebelumnya tidak diketahui oleh orang yang berbicara itu.” 5 Ini berarti seorang yang mempunyai karunia berbahasa lidah dapat mengerti dan mengucapkan bahasa orang lain (asing) dengan sempurna dan dapat dimengerti oleh si pemilik bahasa tanpa mempelajarinya terlebih dulu secara alami.


New English Bible menterjemahkan bahasa roh sebagai “ecstatic language” (bahasa yang mengherankan). Kata “ecstatic” berasal dari bahasa Yunani,” ekstasis”, yang dalam Alkitab diterjemahkan secara kontras “mencengangkan”, “mengherankan” (Markus 5:42; 8:8; Lukas 5:26; Kisah rasul 3:10) dan “tidak sadarkan diri” (Kisah Rasul 10:10; 11:5; 22:7). Tetapi meskipun demikian, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa bahasa roh adalah sebuah bahasa yang diucapkan dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Maka dapat kita katakan bahwa bahasa lidah adalah bahasa yang mengandung makna yang dapat dimengerti dan diucapkan secara spontan oleh seseorang dengan sempurna tanpa mempelajari bahasa itu sebelumnya. Dengan kata lain proses kemampuan berbahasa lidah itu bersifat supernatural atau ajaib. Mengapa? Karena “Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Korintus 12:11).

Bagaimanakah Orang-orang Kristen Abad Pertama Menerima Karunia Berbahasa Lidah?

Dalam kitab Kisah Rasul hanya ada dua peristiwa bagaimana orang Kristen abad pertama mendapatkan karunia berbahasa lidah.

1. Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah secara langsung.
Pemberian karunia berbahasa lidah secara langsung hanya kepada Para Rasul, termasuk Rasul Paulus (Kisah Rasul 2:4; 1 Korintus 14:18), Kornelius dan seisi rumahnya (Kisah Rasul 10:44-47). Selain dari dua peristiwa ini, tidak ada peristiwa lain yang dinyatakan oleh Alkitab tentang bagaimana orang-orang Kristen abad pertama menerima secara langsung dari Roh Kudus karunia berbahasa lidah.

2. Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah melalui penumpangan tangan para rasul.

Dalam Kisah Rasul 19:1-6 menceritakan tentang rasul Paulus bertemu dengan beberapa orang murid Yohanes, yang kemudian ditobatkan oleh Paulus menjadi orang Kristen dan sekaligus menumpangkan tangannya ke atas mereka sehingga dapat berkata-kata dalam bahasa lidah.

Jadi hanya dua cara bagaimana orang-orang Kristen abad pertama mendapatkan karunia berbahasa lidah, yaitu secara langsung dan melalui penumpangan tangan para rasul. Begitulah Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah kepada mereka.

Apakah Tujuan Bahasa Lidah?

Ketika seorang Kristen menerima karunia berbahasa lidah maka karunia itu berada dalam kuasanya, dan dia bisa saja menggunakanya dengan motif yang salah (1 Korintus 14:23) atau sebaliknya, menggunakan sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahasa lidah tidak dipakai untuk menunjukkan kebolehan seseorang dalam berbahasa asing yang tidak dipelajari sebelumnya. Tetapi Alkitab menyatakan dengan jelas apa tujuan dari bahasa lidah.

1. Untuk mengkomunikasikan wahyu Allah, pengetahuan, nubuat dan pengajaran Tuhan (1 Korintus 14:6).
Salah satu fungsi dari bahasa lidah adalah untuk menyatakan firman Allah kepada pendengar yang mengerti bahasa yang dipakai oleh orang yang memiliki karunia berbahasa lidah. Allah tidak pernah bermaksud memberikan karunia ini kepada orang yang dikehendakiNya untuk dipakai sebagai kesempatan memenuhi kepentingan pribadi atau menyatakan kehendak diri si penerima karunia itu sendiri, tetapi untuk menyampaikan seluruh maksud Allah kepada semua umat manusia (Kisah Rasul 20:27; 1 Petrus 4:11).

2. Untuk membangun kerohanian jemaat (1 Korintus 14:5,12, 26).
Masud Allah memberi karunia bahasa lidah, seperti karunia-karunia lainnya juga adalah untuk membangun kerohanian setiap individu anggota jemaat. Mike Cope mengatakan bahwa “dalam 1 Korintus 14:4, Paulus tidak mengizinkan seorang berbicara dalam bahasa lidah di gereja untuk membangun dirinya sendiri. Sebaliknya rasul Paulus mengizinkan penggunaan bahasa lidah bila ada yang dapat menterjemahkannya (1 Korintus 14:28)”7, karena apa yang dikatakan itu akan membangun jemaat, termasuk dirinya sendiri. Karunia berbahasa lidah harus dipergunakan untuk kepentingan bersama (1 Korintus 12:7).

3. Sebagai tanda untuk orang-orang yang tidak percaya (1 Korintus 14:22).
Karunia bahasa lidah adalah suatu praktek yang ajaib. Kita bisa melihat contoh dalam Kisah Rasul 2, orang-orang dari suku bangsa yang berbeda (Kisah Rasul 2:9-11) keheranan mendengarkan para rasul berbicara dalam bahasa mereka masing-masing - itulah bahasa lidah atau bahasa roh (Kisah Rasul 2:4,6,12). Kata “tercengang-cengang” dalam ayat 6 menujukkan reaksi dari para pendengar yang telah mendengarkan dan menyaksikan para rasul, orang Galilea berbicara dalam berbagai bahasa yang tidak pernah mereka pelajari sebelumnya (Kisah Rasul 2:8, 9). Paulus mengutip nubuatan kitab Yesaya 28:11 dalam 1 Korintus 14:21, bahwa Dalam hukum Taurat ada tertulis: "Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan." Ayat ini menyatakan tentang beberapa orang Yahudi yang mendengar pemberitaan Injil tetapi tidak mau mentaatinya (Roma 3:2,3), sehingga pemberitaan dengan bahasa lidah hanya sebagai suatu tanda ajaib saja bagi mereka. Kata “orang yang tidak percaya” dalam 1 Korintus 14:22 ditujukan kepada semua orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi. Ini berarti juga bahwa orang-orang non-Yahudi yang mendengar pemberitaan Injil dalam bahasa lidah tetapi tidak mentaatinya, maka hal itu hanya menjadi suatu tanda (ajaib) saja

4. Untuk meneguhkan pemberitaan firman Allah (Markus 16:20; Roma 15:19).
Karunia-karunia rohani, termasuk karunia bahasa lidah diberikan kepada para rasul dan orang-orang Kristen lainnya pada abad pertama adalah untuk meneguhkan bahwa berita yang mereka sampaikan adalah benar-benar dari Allah. Meskipun beberapa orang tidak percaya, itu tetap firman Allah. Bagi orang-orang yang mendengar, menerima dan mentaati firman itu, menjadi landasan yang teguh bagi keselamatan mereka (Kisah Rasul 2:13, 36,37).

bersambung(ga muat)
Back to top Go down
View user profile http://profiles.friendster.com/zagayo
zagayo
Vice Webmaster
Vice Webmaster
avatar

Number of posts : 546
Age : 29
Location : Kemanggisan, Jakbar
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sun Nov 04, 2007 2:02 am

Dalam 1 Korintus 14, Paulus memberikan pengertian yang jelas tentang bagaimana menggunakan karunia bahasa lidah yang benar. Menurut Gary W. Summers latar belakang mengapa Paulus menjelaskan hal ini dalam 1 Korintus 12:1-3, karena ada masalah yang terjadi, dimana beberapa orang Kristen di Korintus mengakui bahwa mereka dipengaruhi oleh Roh Kudus dan mengatakan “Terkutuklah Yesus.” Kalau memang pernyataan ini adalah kesimpulan yang masuk akal mereka ucapkan, maka nasehat Paulus untuk memberi pengertian adalah benar. Tetapi bagaimana mereka dapat mengatakan hal yang demikian melalui inspirasi Roh Kudus ? Jelas tidak dapat. Apakah mereka berpura-pura berbicara seperti dipengaruhi oleh Roh ? Barangkali Roh Kudus tidak memberikan mereka wahyu dalam perhimpunan, sehingga dengan sikap mementingkan diri sendiri, mereka berpura-pura berbicara seperti Roh Kudus sedang memberi mereka perkataan.

Mengapa mereka berpikir bisa melakukan itu? Ayat 2 menyatakan bahwa beberapa orang Korintus sebelum menjadi Kristen telah terbiasa berbicara dalam keadaan tidak sadarkan diri sebagai bagian dari praktek penyembahan berhala mereka. Mereka telah “dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu” (2 Timotius 3:6). Mereka telah dipimpin oleh kata hati mereka sendiri dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ini menunjukkan beberapa orang Korintus mencoba untuk menghidupkan kembali praktek ucapan-ucapan yang mengherankan (barangkali kata-kata yang tidak berarti atau tidak masuk akal) seperti saat mereka melakukan penyembahan kepada berhala mereka dulu. Jadi dalam usaha mereka untuk menggunakan karunia berbahasa lidah, mereka membiarkan diri dipimpin oleh kata hati yang bersifat psikologis yang pernah mereka alami sebagai penyembah-penyembah berhala.8

Paulus melalui ilham Roh memberikan pengertian sekaligus nasehat kepada orang Kristen di Korintus bagaimana menggunakan karunia berbahasa lidah yang benar.
Pertama, bahasa lidah dapat dipakai jikalau ada yang menterjemahkannya (1 Korintus 14:5,9,11,23,27-28). Karunia-karunia rohani, termasuk bahasa lidah yang diberikan oleh Roh Kudus harus digunakan dengan cara yang “sopan dan teratur” (1 Korintus 14: 40) untuk membangun kerohanian setiap anggota jemaat. Tetapi orang-orang Kristen di Korintus, masing –masing ingin menggunakan bahasa lidah (atau karunia-karunia rohani yang lainnya) pada waktu yang bersamaan, sehingga situasi peribadatan menjadi kacau (1 Korintus 14:22,26). Padahal “Allah tidak menghendaki kekacauan” (1 Korintus 14:40). Situasi seperti ini tidak akan membangun kerohanian anggota jemaat yang tidak mengerti apa yang disampaikan oleh seorang yang memiliki karunia berbahasa lidah, sebaliknya mereka akan mencela (1 Korintus 14:23). Kedua, Bahasa lidah dapat dipakai bila semua audiens mengerti apa yang dikatakan oleh orang yang memiliki karunia berbahasa lidah (1 Korintus 14:23). Tetapi apa yang dipraktekkan oleh aliran Pentakosta dan Karismatik adalah sebaliknya, dimana menurut Gary W. Summers, “banyak di antara mereka tidak peduli apakah yang mereka katakan itu berarti atau tidak, pokoknya mereka yakin bahwa Allah sedang berbicara melalui mereka. Jika tidak seorang pun mengerti apa yang mereka katakan, itu tidak menjadi soal. Mereka pikir itu adalah bahasa pribadi mereka sendiri, sekaligus jika hal itu terjadi, maka mereka percaya sebagai bukti mereka telah dibaptiskan dalam Roh Kudus. Praktek ini hanya berdasarkan emosi dan bukan berdasarkan Kitab Suci.9 Ini adalah hal yang menyedihkan karena mereka tidak mengerti firman Tuhan dengan benar.

Ketiga, orang yang memiliki karunia berbahasa lidah harus berdiam diri jikalau tidak ada yang menterjemahkan apa yang hendak dikatakannya (1 Korintus 14:28). Situasi perhimpuan untuk menyembah Tuhan harus dilakukan “dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:24; bdg. 1 Korintus 14: 15). Ini berarti aktivitas rohani “harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Korintus 14: 40). Jika seorang memiliki karunia berbahasa lidah berbicara dan tidak ada yang menterjemahkan, maka akibatnya bukan saja kekacauan yang terjadi, tetapi juga orang yang mendengarnya tidak akan mengerti apa arti perkataannya, meskipun itu firman Allah, sehingga si pendengar tidak dapat “mengaminkan” (menyetujui) ucapan si pembicara (1 Korintus 14:9,16). Itu “sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi -- bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang?”, kata Paulus ( 1 Korintus 14:7-8).

Ke-empat, orang yang memiliki karunia berbahasa lidah hanya boleh berbicara kepada dirinya sendiri dan kepada Allah jikalau tidak ada penterjemah (1 Korintus 14:28).

Mike Cope menjelaskan, “1 Korintus 14:28 tidak mengatakan bahwa seorang yang berbicara dalam bahasa roh (lidah) berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti kepada dirinya sendiri dan kepada Allah ketika tidak ada penterjemahnya. Kelihatannya, konteks ini berarti bahwa seorang itu berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan dengan Allah di dalam bahasa yang dapat dia mengerti.”10

Kapankah Bahasa Lidah Berhenti?

Beberapa orang, khususnya aliran Karismatik dan Pentakosta percaya bahwa sampai saat ini karunia berbahasa lidah masih terus diberikan oleh Roh Kudus secara langsung kepada orang yang dikehendakiNya. Tetapi apakah pendapat ini benar? Sebaiknya kita dengan pikiran terbuka menyelidiki bagaimana Alkitab berbicara tentang jangka waktu berlakunya karunia bahasa lidah.
Dalam 1 Korintus 13:8, Paulus mengatakan bahwa “bahasa roh akan berhenti” Kapan ?

1. “Jika yang sempurna tiba” (1 Korintus 13:10).
Beberapa orang menafsirkan kata ini ditujukan kepada Yesus, seorang yang sempurna dan yang akan datang. Pendapat salah inilah yang menuntun mereka untuk percaya bahwa karunia bahasa lidah masih ada, dan itu akan berhenti ketika Yesus yang sempurna itu datang. Tentu tidak ada orang yang menyangkal bahwa Yesus sempurna (Ibrani 5:9). Tetapi konteks ini sama sekali tidak membicarakan hal itu. Kata “yang sempurna” di ayat ini dalam bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru) adalah “teleiov” yang artinya “lengkap”, “sempurna”, “dewasa”. Pengertian secara luas kata ini adalah “telah mencapai tahap akhir atau perkembangan penuh.” Ini berarti telah mencapai kesempurnaan dalam Yesus (Kolose 1:28), telah menjadi dewasa (Efesus 4:13; Ibrani 5:14).11

Selanjutnya dalam 1 Korintus 13:11-12, Paulus memberikan ilustrasi (gambaran) tentang keadaan jemaat saat itu yang belum dewasa secara rohani, sehingga sangat diperlukan karunia-karunia rohani untuk membantu jemaat bertumbuh dewasa. Jadi setelah mereka menerima apa yang mereka butuhkan untuk mencapai kedewasaan maka “yang tidak sempurna (karunia-karunia rohani) itu akan lenyap” (1 Korintus 14:10).

Vine’s Complete Expository Dictionary memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kata “yang sempurna” (teleion) yang berarti “lengkap”, ”sempurna”, yang ditujukan pada “penyataan kehendak dan cara-cara Allah yang sempurna di dalam Kitab Suci yang lengkap.”12

Jadi setelah firman Allah diteguhkan dengan karunia-karunia rohani (Markus 16:20), yang kemudian terhimpun dalam bentuk kitab tertulis seperti yang dikehendaki Allah melalui tulisan tangan orang-orang yang diilhami oleh Roh Kudus (2 Timotius 3: 16; 2 Petrus 1:20, 21), maka saat itulah berakhir karunia-karunia rohani (baca 1 Korintus 12:8-10), termasuk karunia bahasa lidah. Firman Allah sanggup memberi pertumbuhan rohani ( 1 Petrus 2:2; 2 Petrus 3:18) yang akan membawa kepada kesempurnaan dalam Kristus ( 2 Timotius 3: 17 “diperlengkapi” lebih tepat diterjemahkan “sempurna” –“perfect” dalam King James) melalui proses belajar rutin, objektif dan dengan pikiran yang terbuka (2 Timotius 2:15; 1 Petrus 4:11; Wahyu 22: 18-19). Dengan adanya firman tertulis maka tidak diperlukan lagi karunia-karunia rohani (yang hanya bekerja saat gereja masih dalam keadaan infansi).
2. Sejak rasul-rasul Tuhan dan orang-orang yang mendapatkan tumpangan tangan mati.

Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya bahwa Alkitab mencatat hanya ada dua peristiwa dimana orang Kristen abad pertama menerima karunia berbahasa lidah secara langsung, yakni rasul-rasul pada Hari Raya Pentakosta (Kisah Rasul 2) dan Kornelius serta seisih rumahnya (Kisah Rasul 10). Sedangkan peristiwa lainnya dengan penumpangan tangan rasul-rasul, contohnya beberapa murid Yohanes yang ditobatkan menjadi Kristen oleh Paulus di Efesus (Kisah Rasul 19).

Alkitab menyatakan bahwa hanya para rasul yang dapat menumpangkan tangan ke atas orang Kristen lainnya untuk mendapatkan karunia berbahasa lidah. Selain dari pada mereka, Alkitab tidak menyatakannya. Melalui aksi penumpangan tangan rasul-rasul-lah Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah kepada orang yang dikehendakiNYa.

Sejak rasul-rasul sudah mati semuanya, termasuk Rasul Yohanes yang dipercayai terakhir mati, kira-kira tahun 90-an Masehi, maka sudah pasti tidak ada lagi yang menjadi pelaksana penumpangan tangan ke atas orang Kristen untuk mendapatkan karunia berbahasa lidah, demikian juga dengan orang-orang Kristen yang telah menerima karunia itu semuanya sudah mati. Jadi sangat masuk akal bahwa karunia bahasa lidah sudah berhenti. Kalau ada, itu palsu !

Kesimpulan

Bahasa lidah adalah salah satu dari beberapa karuni rohani yang tercatat dalam 1 Korintus 12: 8-10. Bahasa lidah adalah bahasa yang dapat dimengerti, baik orang yang mengucapkan maupun orang yang mendengarkannya.
Bahasa lidah itu ajaib, karena orang yang tidak pernah mempelajari sebelumnya dapat mengucapkannya dengan sempurna sehingga si pemilik bahasa mengerti dengan jelas ketika mendengarkannya dan sekaligus mengherankan baginya.
Bahasa lidah dipergunakan untuk meneguhkan pemberitaan firman Allah. Bahasa lidah hanya berlangsung pada abad pertama ketika gereja masih dalam tahap infansi.
Bahasa lidah berakhir ketika wahyu Allah telah terhimpun dalam bentuk Kitab Suci dan setelah para rasul dan orang-orang Kristen yang mendapat penumpangan mati.
Back to top Go down
View user profile http://profiles.friendster.com/zagayo
zagayo
Vice Webmaster
Vice Webmaster
avatar

Number of posts : 546
Age : 29
Location : Kemanggisan, Jakbar
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sun Nov 04, 2007 2:06 am

J4uI lagi -> gw pun lom baca(sori sibuk hehe)

Berbahasa Lidah

Seorang gembala sidang Gereja di Skotlandia berbaring di bagian Intensive Care Unit rumah sakit Glasgow. Ia tahu bahwa hidupnya sedang tidak menentu – mungkin segera ia akan bertemu Tuhannya muka dengan muka. Maka, ia mulai berbicara kepada Tuhan. Sedang ia berdoa, ia mendapatkan bahwa ia sedang berdoa dalam suatu bahasa yang ia sendiri belum pernah mendengar sebelum ini. Sesudah menceritakan rahasianya ini kepada seorang temannya, ia tidak pernah menyebutnya kembali. Ia kemudian sembuh dan melayani Tuhannya beberapa tahun lagi.

Seorang ibu muda sedang kacau, baginya segala sesuatu berjalan tidak beres hari itu. Malam itu ia duduk di atas tempat tidurnya dan “mengomel kepada Allah.”

“Pernahkah Anda mendengar tentang doa dalam bahasa lidah?” ia berhenti sebentar untuk bertanya kepada istri saya sedang ia menceritakan kejadian itu kepada istri saya. Ruth mengangguk. Orang itu melanjutkan: “Saya belum pernah. Saya belum pernah mendengarnya. Saya tidak pernah memohon untuk itu. Saya bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dan tiba-tiba rasanya saya sedang diorbitkan dari bumi ini dalam sebuah pesawat ruang angkasa dan sedang saya melewati setiap benua saya memikirkan orang-orang Kristen di sana, menyebutkan nama-nama utusan Injil yang saya kenal. Saya mengelilingi seluruh muka bola dunia ini. Saya menengok pada jam dengan mengira bahwa saya telah berdoa selama setengah jam. Heran saya! Sudah dini hari! Dan saya disegarkan kembali. Beban saya sudah terangkat. Frustasi, kemarahan, ketidakpuasan – semua telah hilang. Dan saya merasa sama seperti saya telah tidur dengan nyenyak.”

Suatu kelas Sekolah Minggu sedang mempelajari pribadi dan pekerjaan Roh Kudus. Di daerah itu berbahasa lidah sedang menjadi sebab perpecahan di antara orang-orang percaya. Sesudah pertemuan khusus yang menarik, guru Sekolah Minggu bagian mahasiswa itu, diminta untuk berceramah mengenai Roh Kudus. Seorang demi seorang para mahasiswa itu membagikan pengalaman mereka dengan berbahasa lidah. Beberapa bulan kemudian guru itu mengingat kembali kelas itu dan menyebutkan tiga orang yang mengesankan. Seorang memberikan kesaksian yang kelihatannya benar. Untuk beberapa bulan, sesudah pengalamannya itu, ia asyik dengan berbahasa lidah. Kemudian ia berusaha untuk meyakinkan orang-orang lain untuk berpengalaman yang sama. Akhirnya ia sadar bahwa Roh Kudus dikaruniakan untuk tujuan memuliakan Tuhan Yesus dengan cara-cara yang berbeda. Ia tidak memaksa orang lagi. Dan sekarang ia adalah seorang pelayan Injil yang sungguh bermanfaat.

Anggota yang kedua, yang mengatakan dirinya telah berbahasa lidah, telah dikeluarkan dari Perguruan Tinggi beberapa minggu kemudian, sebab ia telah melakukan perbuatan yang melanggar susila secara terbuka berulang-ulang, dan tidak bertobat.

Orang yang ketiga yang diingat guru itu adalah seorang berandal dari kota besar yang belum lama bertobat. Ia berbicara dengan guru itu dan mengaku bahwa ia juga dikenal sebagai salah seorang yang dapat menggunakan bahasa lidah dari kelompok yang sama. Pada waktu guru itu bertanya bahasa apa yang dia pakai, ia menjawab, “Bahasa yang biasa dengar pada waktu saya menolong nenek saya, seorang dukun yang dapat berhubungan dengan roh itu.” Guru itu menceritakan kepada saya, ia merasa kasus-kasus ini menggambarkan tiga sumber untuk apa yang disebut bahasa lidah: (1) Roh Kudus; (2) pengaruh psikologis; (3) pengaruh iblis.

Memang saya tidak berlaku seakan-akan saya ini seorang ahli dalam bahasa lidah, pendapat saya berasal dari penyelidikan Alkitab dan pengalaman saya serta diskusi dengan banyak orang. Satu hal yang pasti, baik Roh Kudus maupun karunia-karunia-Nya telah diberikan bukan untuk memecah-belah orang-orang percaya. Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh mempunyai pendapat sendiri tentang apa yang diajarkan Alkitab tentang bahasa lidah. Juga tidak berarti jangan mempunyai sidang setempat yang menonjolkan bahasa lidah dan juga sidang lain yang tidak menonjolkan bahasa lidah. Tetapi saya pasti tentang satu hal: jika karunia lidah disalahgunakan dan dijadikan alat untuk memecah belah, maka ada sesuatu yang tidak beres. Dosa telah memasuki tubuh Kristus.

Latar Belakang Sejarah

Hampir selama satu abad berbahasa lidah diberikan peran yang penting di antara orang-orang Kristen dan gereja-gereja tertentu. Bagi mereka berbahasa lidah itu berhubungan dengan kehidupan orang Kristen sesudah bertobat.

Memang benar, bahwa ribuan orang percaya yang disebut “karismatik” belum pernah berbicara dengan bahasa lidah. Dan mereka diterima sebagai orang percaya yang benar di dalam Yesus Kristus. Jadi di antara banyak gereja-gereja yang menyebut dirinya karismatik, berbahasa lidah tidak dianggap sebagai sesuatu tanda yang perlu sebagai tanda orang telah dilahirkan kembali. Mereka setuju bahwa orang-orang yang dilahirkan kembali telah dibaptis oleh Roh dalam tubuh Kristus, dan baptisan air hanya sebagai tanda lahiriah. Pada saat kelahiran baru, Roh langsung tinggal di hatinya. Tetapi bagi mereka baptisan Roh itu terjadi sesudah kelahiran baru.

Belakangan ini gerakan Pentakosta atau karismatik muncul. Banyak daripada orang-orang ini masih tetap menjadi anggota dari denominasi-denominasi mereka sendiri dan sebagian dari mereka adalah orang-orang Katolik Rum. Mereka sepaham dengan tekanan dari gereja-gereja Pentakosta akan kesembuhan dan sering menerima berbahasa lidah sebagai tanda baptisan Roh Kudus, pengalaman yang terjadi sesudah kelahiran kembali. Tetapi gereja-gereja Pentakosta lama merasa terbelenggu sebab mereka tidak selalu melihat adanya perubahan gaya hidup di antara orang-orang neo-Pentakosta, sesuatu yang mereka hargai sebagai yang hakiki dalam hidup yang diurapi Roh.

Tak dapat disangkal kenyataan bahwa tekanan neo-Pentakosta mendekatkan Protestan dan Katolik Rum di sebagian dunia ini. Memang pendekatan ini tidak didasarkan penyesuaian dasar doktrin akan hal seperti dibenarkan karena iman, pengorbanan Misa, atau Paus yang tidak dapat berbuat salah, tetapi pada dasar berbahasa lidah dan baptisan oleh Roh Kudus. Namun, saya telah banyak menjumpai orang-orang Katolik, seperti orang-orang Protestan, yang menyebut diri mereka sebagai karismatik tetapi tidak pernah berbahasa lidah. Bagi mereka pengalaman karismatik adalah penemuan baru tentang hubungan pribadi dengan Kristus.

Data Mengenai Berbahasa Lidah Yang Berdasarkan Alkitab

Berbahasa lidah (atau “glossolalia,” istilah yang terbentuk dari bahasa Yunani) hanya disebut di dalam dua buku Perjanjian Baru: Kisah Para Rasul dan Surat Pertama Paulus kepada orang Korintus (walaupun ada di dalam Markus 16:17, kebanyakan ahli percaya bagian ini tidak ada di dalam naskah-naskah aslinya). Kata itu rupanya digunakan dengan dua cara yang berbeda. Cara yang satu didapat dalam hubungan dengan kejadian pada hari Pentakosta, pada waktu janji kedatangan Roh Kudus terjadi. Melalui penyelidikan yang teliti tentang Kisah Para Rasul 2, “lidah” adalah bahasa yang dimengerti oleh pendatang-pendatang asing di Yerusalem. Jadi kelompok orang-orang Kristen yang kecil itu diberi kemampuan yang luar biasa untuk berbicara dalam bahasa lain.

Apa yang terjadi pada Pentakosta? Pasal kedua dari Kitab Kisah Para Rasul memberitahu kita empat hal terjadi yang menandai kejadian zaman baru. Pertama, suatu suara dari langit seperti angin keras memenuhi rumah itu. Kedua, sesuatu seperti lidah-lidah api diam di atas setiap orang di ruang atas. Ketiga, mereka semua dipenuhi Roh Kudus. Keempat, mereka semua berbahasa lidah pada waktu Roh mengaruniai mereka kemampuan untuk berbuat demikian. Bahasa-bahasa lidah ini adalah bahasa yang dimengerti oleh orang-orang dari seluruh Kekaisaran Roma yang datang ke Yerusalem untuk Pentakosta. Sebagian orang percaya bahwa rasul-rasul itu diberi karunia suatu kemampuan yang luar biasa untuk dapat berbahasa asing yang mereka belum kenal. Sikap apa saja yang kita ambil, pastilah “mujizat” terjadi!

Kata dasar yang sama bagi “dipenuhi” terdapat di Kisah Para Rasul 4:8 di mana Petrus “penuh dengan Roh Kudus” (berbahasa lidah tidak disebutkan) menyampaikan khotbah yang singkat kepada imam besar dan pemimpin-pemimpin Yahudi. Akar kata yang sama digunakan berhubungan dengan Yohanes Pembaptis dalam Lukas 1:5 yang mengatakan bahwa “ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya.” Namun kita tidak mempunyai catatan bahwa Yohanes Pembaptis berkata-kata dalam bahasa lidah. Dalam pertobatan Paulus, kita diberitahu bahwa Ananias datang kepadanya “supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus” (Kisah Para Rasul 9:17). Kemudian penglihatannya pulih kembali, ia dibaptiskan, dan “ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah” (Kisah Para Rasul 9:20). Sekali lagi berbahasa lidah tidak disebutkan.

Kisah Para Rasul 19 mencacat pengalaman Paulus di Efesus. Ia mendapatkan sebagian orang percaya di sana yang belum pernah mendengar apa-apa tentang kedatangan Roh. Kemudian kita diberitahu bahwa “Ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat” (Kisah Para Rasul 19:6). Di sini Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa mereka dipenuhi Roh. Bagaimanapun juga mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat, walaupun tidak ada lidah-lidah yang seperti api dan angin keras seperti pada waktu Pentakosta. Terlebih lagi catatan dalam Kisah Para Rasul 19 tidak menerangkan apakah bahasa yang mereka gunakan itu adalah bahasa yang dapat dimengerti oleh orang-orang yang ada di sana ataupun tidak dikatakan bahwa ada penterjemah di sana. Paling sedikit kita dapat mengira bahwa mereka berbahasa dengan bahasa yang digunakan di suatu tempat di dunia ini.

Pada waktu saya pergi ke negeri asing, saya berbahasa Inggris. Bahasa ini adalah bahasa yang tidak dikenal oleh kebanyakan pendengar saya. Misalkan, di India bagian Timur Laut saya berbicara kepada beberapa ribu orang setiap pertemuan; tujuh belas penterjemah digunakan untuk menterjemahkan arti berita yang saya sampaikan itu ke dalam bahasa daerah yang berbeda-beda sehingga orang-orang itu dapat mengerti “bahasa lidah” yang saya ucapkan. Pendapat saya ialah bahwa keadaan ini dapat disamakan seperti yang terjadi pada Hari Pentakosta, kecuali bahwa di waktu itu terjadi mujizat ilahi. Mungkin seorang pembicara itu berbicara dalam bahasa yang dimengerti oleh orang-orang tertentu, atau mungkin Roh Kudus mengartikan apa yang telah dikatakan kepada setiap pendengar dalam bahasanya sendiri, maka mujizat terjadi karena pendengar-pendengar itu sanggup mengerti.

Bahasa Lidah yang “Tidak Dikenal” Dalam 1 Korintus

Terjadinya bahasa lidah dalam 1 Korintus kelihatannya agak berbeda daripada yang terjadi dalam Kisah Para Rasul, walaupun digunakan kata Yunani yang sama.

Pada Hari Pentakosta murid-murid berbahasa lidah yang dimengerti oleh orang-orang yang berkunjung ke Yerusalem. Pembicara-pembicara yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus tidak mengenal bahasa-bahasa itu, tetapi pendengarnya mengenal. Namun, di dalam 1 Korintus mereka tidak mendengar suatu bahasa yang mereka kenal, maka penterjemah dibutuhkan. Bahasa lidah dalam 1 Korintus itu bahasa yang dikenal atau tidak, tidak perlu dipersoalkan. Sebagian pelajar Alkitab berpendapat bahwa bahasa itu dikenal, sedangkan pelajar lainnya mengatakan bahwa kata-kata itu hanyalah merupakan ucapan luapan emosi yang luar biasa yang tak ada hubungannya dengan bahasa manusia yang dikenal. Secara pribadi, saya condong kepada pendapat yang terakhir. Sebenarnya, mungkin hal itu tidak begitu penting di bagian ini, walaupun sebagian orang mengatakan kalau karunia berbahasa lidah yang diberikan kepada orang-orang Korintus adalah bahasa yang dikenal, maka hal itu tidak ada hubungannya dengan banyak dari yang dinamakan “bahasa lidah” pada zaman ini. Kenyataan bahwa “menafsirkan” dipandang sebagai suatu karunia rohaniah membuat saya percaya bahwa karunia lidah yang disebut dalam 1 Korintus adalah bahasa yang tidak dikenal. Kalau memang itu bahasa yang dikenal, pasti ada orang yang mengertinya.

1 Korintus 13 mempunyai teka-tekinya sendiri. Paulus menyebutkan bahasa manusia dan bahasa malaikat. Dengan sendirinya nyatalah bahwa bahasa malaikat tidak dikenal oleh kita, padahal pengertian ialah bahwa ada kemungkinan orang dapat mengucapkan bahasa yang sedemikian itu. Di dalam 1 Korintus Paulus membicarakan bahasa sebagai karunia yang datang dari Roh Kudus, jadi ada kemungkinan juga bahwa Ia, memberi kemampuan kepada seseorang untuk dapat berbicara dalam bahasa malaikat. Tentu, Paulus membuatnya jelas bahwa tidak semua orang diberi karunia istimewa ini. Oleh alasan-alasan tersebut, sukar bagi saya untuk menghubungkan pemenuhan Roh Kudus dengan baptisan kedua dan berbahasa lidah sebagai tanda yang menyertainya. Saya tidak bisa mendapatkan bukti yang kuat berdasarkan Firman Tuhan untuk menyatakan bahwa berbahasa lidah sebagai tanda diberi kepada semua orang yang telah dibaptis dengan Roh, sedangkan karunia lidah adalah karunia yang diberikan hanya kepada orang tertentu.

Lebih jauh, kadang-kadang saya berpikir bahwa pemakaian istilah “karismatik” zaman modern ini mungkin tidak benar. Di dalam 1 Korintus, kata Yunani bagi karunia-karunia yang diberikan Allah kepada orang-orang percaya adalah karismata. Tak seorang pun dapat memperoleh karunia itu oleh usahanya sendiri. Menurut Paulus, karunia-karunia berasal dari pekerjaan Roh Allah “yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Korintus 12:11). Paulus mengatakan, “Sebab dalam satu Roh kita semua dibaptis menjadi satu tubuh” (1 Korintus 12:13). Roh memberikan karunia kepada berbagai anggota-anggota tubuh. Jadi, setiap orang percaya menerima karunia. Maka dengan demikian setiap orang percaya adalah seorang karismatik!

Terlebih lagi Paulus tidak mengatakan bahwa semua karunia itu milik setiap orang percaya. Ia hanya mengatakan bahwa setiap orang menerima karunia. Ia memberitahu orang-orang Korintus agar mereka “merindukan” karunia yang paling baik. Dalam 1 Korintus 13 ia mengatakan bahwa karunia apa saja jika tidak disertai kasih adalah sia-sia.


bersambung(lagi2 ga muat)
Back to top Go down
View user profile http://profiles.friendster.com/zagayo
zagayo
Vice Webmaster
Vice Webmaster
avatar

Number of posts : 546
Age : 29
Location : Kemanggisan, Jakbar
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sun Nov 04, 2007 2:08 am

Mengamati Karunia Berbahasa Lidah

Berkenaan dengan karunia berbahasa lidah seperti yang disebutkan dalam 1 Korintus 12:30 dan pembicaraan mengenai pokok ini secara panjang lebar di dalam 1 Korintus 14, hal-hal berikut ini harus diperhatikan:

Pertama, ada karunia berbahasa lidah tertentu yang rupanya berbeda dari yang diutarakan pada Pentakosta sebab tidak diperlukan penterjemah di situ. Dan tanda lain menyertainya: lidah-lidah seperti nyala api dan angin keras. Hal-hal itu tidak disebutkan berhubungan dengan karunia-karunia Roh di dalam 1 Korintus.

Walaupun ada ketidakcocokan di antara orang-orang Kristen tentang kebenaran berbahasa lidah sekarang, secara pribadi saya tidak dapat menemukan pembenaran Alkitabiah untuk mengatakan bahwa karunia berbahasa lidah itu hanya dimaksudkan untuk orang-orang zaman Perjanjian Baru semata-mata. Hal itu dengan mudah menjadi suatu kesalahpahaman dan bahkan menjadi persoalan yang menyebabkan perpecahan. Ternyata Paulus merasa perlu membicarakannya dalam 1 Korintus 12 – 14. (Ia menekankan bahwa karunia lidah adalah yang paling kecil artinya. Ia juga membahasnya dengan panjang lebar, melebihi karunia yang lain.) Maka dari itu, pada waktu hal demikian timbul sekarang, kita harus menanganinya secara hati-hati sesuai dengan pedoman alkitabiah yang telah diajukan oleh Paulus.

Juga, sedang karunia berbahasa lidah dapat terjadi zaman ini sebagai karunia rohani yang sah, ini tidak berarti bahwa setiap manifestasi berbahasa lidah itu sesuai dengan kehendak Allah dan harus disetujui oleh kita tanpa penyelidikan.

Kedua, harus ditekankan, seperti yang terdapat pada 1 Korintus 12 – 14, bahwa berbahasa lidah itu merupakan suatu karunia dari Roh Kudus, bukan buah Roh. Seperti yang akan lihat, buah Roh yang telah digarisbesarkan dalam Galatia 5:22, 23 harus menandai setiap orang Kristen yang berjalan dalam Roh. Pada sisi lain, karunia-karunia diberikan kepada orang-orang percaya oleh kuasa dan kehendak dari Allah. Maka dari itu, karunia itu mungkin dimiliki oleh seseorang, sedang orang lain tidak memilikinya. Saya tidak dapat menemukan alasan yang alkitabiah untuk mengatakan bahwa berbahasa lidah adalah karunia Allah yang dikehendaki untuk diberikan kepada semua orang percaya. Sebagian orang mungkin akan dikaruniai karunia itu, sementara banyak orang lain yang tidak dikaruniainya. Sangatlah bersalah jika seseorang yang belum pernah menerima karunia berbahasa lidah merasa bahwa ia adalah orang Kristen “kelas dua,” atau sangat menginginkan memperoleh karunia itu meskipun Allah tidak berkenan memberikan kepadanya. Bagi orang yang memiliki karunia ini, juga sama salahnya jika ia menghendaki agar setiap orang lain juga memiliki karunia itu, atau mengajarkan bahwa setiap orang harus mengalaminya.

Ketiga, karunia berbahasa lidah yang disebutkan di dalam 1 Korintus 12 – 14 dengan jelas dinyatakan sebagai karunia-karunia Roh yang sebenarnya kurang penting, bahkan sebagai karunia yang tidak penting. Alasannya ialah bahwa hal itu kurang memberi manfaat rohani kepada orang percaya lainnya. Karunia lainnya dengan jelas adalah untuk membangun dan menguatkan tubuh Kristus. Sedangkan berbahasa lidah juga dapat berfungsi demikian dalam kebaktian umum (jika ada penterjemah yang hadir), karunia lain lebih berhubungan langsung di dalam saling menguatkan orang-orang percaya.

Itulah sebabnya karunia berbahasa lidah jangan dianggap sebagai titik yang tinggi dalam kematangan kekristenan. Sebetulnya, berjuta-juta orang Kristen yang sudah dewasa rohani tidak pernah berkata-kata dalam bahasa roh, dan banyak yang sudah berkata-kata dalam bahasa roh tetapi belum dewasa rohaninya.

Keempat, karunia berbahasa lidah bukanlah sebagai tanda baptisan Roh ke dalam tubuh Kristus, bagi orang-orang percaya. Hal itu benar di dalam 1 Korintus, sebab orang-orang ini telah dipersatukan selamanya ke dalam tubuh Kritus. Di dalam Alkitab saya tidak dapat menemukan yang mengatakan bahwa karunia berbahasa lidah adalah bukti yang menandakan dibaptiskan dengan Roh Kudus ke dalam tubuh Kristus, Gereja. Bahkan di dalam Kisah Para Rasul di mana berkata-kata dalam bahasa lidah disebutkan, tidak ada petunjuk bahwa hal itu sebagai bukti bahwa seseorang itu telah dibaptis dengan Roh Kudus.

Secara yang sama karunia lidah tidak perlu disetarakan dengan dipenuhi Roh. Kita mungkin saja dipenuhi dengan Roh tetapi tidak pernah berkata-kata dalam bahasa lidah. Pemenuhan Roh dapat mengakibatkan banyak pengalaman yang berbeda di dalam hidup kita. Berbahasa lidah pada suatu saat, mungkin hanyalah merupakan satu kenyataan. Sebagian daripada orang-orang yang paling dipenuhi Roh yang saya kenal tidak pernah mengalami karunia berbahasa lidah, tetapi mereka tidak kurang dipenuhi dengan Roh.

Kelima, baik Alkitab maupun pengalaman kedua-duanya memperingatkan kita bahwa karunia berbahasa lidah itu mudah disalahgunakan dan sebenarnya dapat menjadi berbahaya. Misalkan, karunia lidah dapat menjadikan seseorang sombong. Mungkin seseorang mengalami karunia lidah dan merasa bahwa dia itu lebih baik atau lebih rohani daripada orang-orang percaya lainnya yang belum menerima karunia itu. Kelakukan demikian secara langsung bertentangan dengan kelakuan yang penting sebagai seorang yang dipenuhi Roh.

Bahaya lainnya, misalnya (seperti yang telah ditunjukkan), berbahasa lidah dapat dengan mudah memecah belah. Sering-sering hal ini terjadi karena kesombongan atau karena seseorang yang berkarunia lidah itu mencoba untuk memaksakan hal itu kepada orang lain. Pada segi yang lain, mungkin juga bagi sebagian orang untuk menjadi sombong sebab mereka tidak berkata-kata dalam bahasa lidah, dan hal ini pun sama bahayanya!

Salah satu bahaya yang terbesar di dalam soal berbahasa lidah ialah ketidakseimbangan. Yaitu, kadang-kadang seseorang yang mengalami karunia ini menjadi hampir terpukau atau hanya mementingkan berbahasa lidah. Karunia Roh lainnya dilupakan (kecuali, mungkin, karunia-karunia tanda lainnya yang menakjubkan), dan biasanya sedikit minatnya terhadap kehidupan suci dan buah-buah Roh. Sebagian orang yang menekankan berbahasa lidah itu sebagai pusat perhatian mereka dan mengajak orang lain untuk mendapatkannya, gagal memperlihatkan minatnya kepada penginjilan, suatu tekanan yang ingin diberikan oleh Roh. Umpamanya, saya berpikir mengenai kelompok kecil dari mereka yang berbahasa lidah yang jarang sekali memenangkan jiwa bagi Kristus. Mereka menanti orang lain untuk memenangkan jiwa, kemudian menghubungi orang yang baru bertobat itu dalam suatu usaha membujuk dia bahwa dia harus berbahasa lidah untuk bertumbuh dalam Tuhan.

Masih ada bahaya lainnya yaitu bahwa sebagian orang akan melihat suatu pengalaman berbahasa lidah sebagai jalan pendek untuk menuju kepada kuasa rohani dan kematangan. Seorang anggota staf saya dahulu belajar di seminari bersama dengan seorang muda yang mengikuti bermacam-macam pertemuan dengan harapan agar mendapatkan karunia lidah. Pada waktu ditanya mengapa ia menginginkan karunia ini, katanya karena ia merasa sangat kekurangan kuasa dan persekutuan dengan Allah. Ia berpikir berbahasa lidah akan memberinya baik kekuatan rohani maupun perasaan akan kehadiran Allah. Pada waktu ditanya apakah ia berdoa secara tetap, atau membaca Alkitab secara teratur, atau memakai banyak waktu untuk bersama-sama dengan orang-orang percaya lainnya, ia mengakui bahwa dia tidak melakukan semua itu. Allah telah memberinya perlengkapan untuk pertumbuhan rohani – doa, Alkitab, persekutuan – tetapi ia tidak mempunyai kemauan untuk cukup berdisiplin dalam menggunakan perlengkapan itu. Baginya, karunia berbahasa lidah adalah jalan pendek untuk mencapai kematangan. Mungkin keluarnya dia dari seminari tidak lama sesudah itu dan pembatalan rencananya untuk menjadi pendeta, tidaklah merupakan suatu kebetulan.

Bahaya yang terakhir yang dapat disebutkan ialah kemungkinan bahwa karunia itu kadang-kadang palsu. Hal ini dapat disebabkan karena muslihat yang disengaja, atau mungkin disebabkan “karunia” itu kadang-kadang tidak bersumber dari Allah tetapi dari keadaan psikologis seseorang. Atau mungkin juga disebabkan kegiatan setan.

Mungkin perlu dikemukakan di sini bahwa peramal Yunani kuno dari Delfia berbicara dalam bahasa yang dapat disebut sebagai “bahasa lidah,” seperti yang dibuat oleh para imam di kuil-kuil besar di Korintus. Dr. Akbar Abdul Haqq menceritakan bahwa kejadian itu bukanlah suatu yang aneh di India di antara orang-orang bukan Kristen sekarang ini.

Juga, ada kejadian tertentu yang terbukti dari orang-orang yang dirasuk setan yang mendapat kemampuan untuk berbicara di dalam bahasa tertentu yang dikenal. Tetapi si pembicara itu sendiri tidak mengenal bahasa itu pada waktu dia sadar. Alkitab mencatat bagaimana tukang sihir Firaun dapat menirukan mujizat Allah sampai pada batas tertentu.

Tidak heranlah jika Yohanes mengatakan, “Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah” (1 Yohanes 4:1). Kita sudah menyelidiki ini di dalam pembicaraan tentang karunia untuk membedakan di dalam pasal 12.

Bahkan orang Kristen juga telah memalsukan karunia ini. Seorang anak perempuan yang menghadiri pertemuan karismatik sangat ingin menerima karunia berbahasa lidah ini seperti yang dimiliki kawan-kawannya. Maka, karena ia telah dibesarkan di negara lain, ia berdoa dalam bahasa aslinya, pura-pura hal itu sebagai pekerjaan karunia Roh. Yang lain berpikir bahwa ia telah menerima karunia lidah itu. Sebagai hasilnya, di dalam lingkungan kecil ini, di mana berbahasa lidah itu penting sekali, akhirnya ia diterima!

Tak ada pengalaman apa pun – tidak peduli berapa besar artinya bagi kita, atau kelihatan seberapa terkesan – yang dapat mengganti Firman Allah dalam hidup kita. Pengalaman kita harus diukur dalam terang Alkitab; kita tidak dapat mengukur Alkitab dengan pengalaman kita. Allah Roh Kudus telah memberi kita Alkitab, maka tidak ada karunia yang sungguh-sungguh datang dari Roh Kudus yang bertentangan dengan Alkitab.

Keenam, bagaimana dengan pemakaian bahasa lidah secara pribadi dalam pemujaan sebagai cara untuk memunji Allah dan mengalami persekutuan-Nya? Sejumlah kawan-kawan saya menceritakan bahwa sesudah mereka berdoa lama sekali, tiba-tiba mereka mendapatkan diri mereka berkata-kata dalam bahasa yang tidak mereka kenal. Mereka menyimpan pengalaman ini sebagai pengalaman pribadi dan tidak mengatakan bahwa orang lain harus mengalami pengalaman itu. Mereka juga tidak mengatakan bahwa semua orang Kristen harus berbahasa lidah sebagai tanda kematangan rohani. Semua orang tahu bahwa Corrie ten Boom pernah berkata-kata dalam bahasa lidah, tetapi ia tidak pernah membicarakannya dan tidak pernah mendiskusikannya. Sering ia menegur mereka yang membicarakannya secara berlebihan.


bersambung(lg2 ga muat)
Back to top Go down
View user profile http://profiles.friendster.com/zagayo
zagayo
Vice Webmaster
Vice Webmaster
avatar

Number of posts : 546
Age : 29
Location : Kemanggisan, Jakbar
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sun Nov 04, 2007 2:09 am

Sebetulnya, Alkitab tidak banyak membicarakannya. Pemakaian bahasa lidah secara pribadi juga terjadi pada Rasul Paulus. Ia mengatakan “aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih daripada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, daripada beribu-ribu kata dengan bahasa roh” (1 Korintus 14: 18, 19). Ada yang mengatakan bahwa nasihat Paulus untuk “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh” (Efesus 6:18) menyangkut doa dalam bahasa lidah. Tetapi yang diminta adalah berdoa secara khusus (yaitu pikiran dengan terang bekerja dan memusatkan dirinya pada pokok doa itu). Tekanan bagian ini akan menunjukkan bahwa bukan maksud Paulus membicarakan bahasa roh.

Sebagai penutup, saya harus mengatakan bahwa saya tidak dapat tidak terkesan akan pendapat-pendapat yang sangat berbeda-beda tentang berbahasa lidah antara orang yang menyebut diri mereka sebagai karismatik. Banyak yang merasa bahwa sangatlah tidak benar jika ada yang mengatakan berbahasa lidah adalah perlu untuk dibaptis atau dipenuhi dengan Roh Kudus. Suatu kelompok besar dari orang-orang Injili tidak merasa berbahasa lidah itu sebagai karunia Roh yang cocok untuk zaman ini, sama seperti jabatan rasul juga sudah tidak merupakan karunia yang relevan.

Saya mengenal salah satu organisasi yang dipakai oleh Tuhan yang bergerak dalam pelayanan seminar Alkitab yang tidak pernah memberikan kesempatan kepada siapa pun yang berbahasa lidah, walaupun orang itu pandai sekali. Orang lain mungkin tidak setuju dengan cara ini, tetapi para pemimpinnya adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam keyakinan mereka sehingga kita perlu menghargai pandangan mereka.

Pada sudut lain, banyak orang-orang Injili yang tidak menjalankan bahasa lidah sendiri mengambil sikap netral. Mereka telah melihat bahwa gerakan karismatik sudah memasuki semua denominasi secara mendalam dengan berkat besar dan pembaharuan. Maka mereka bersedia untuk menerima semua karunia istimewa dari 1 Korintus itu masih relevan dan menerimanya sebagai karunia Roh.

Sebagai suatu keadilan kepada beberapa orang kawan karismatik saya, saya harus menambahkan bahwa walaupun saya tidak setuju dengan mereka bahwa “baptisan dengan Roh” harus diikuti dengan tanda berbahasa lidah, saya tahu dan mengajarkan akan perlunya orang-orang percaya untuk penuh dengan Roh. Dengan mengesampingkan hal berbahasa lidah sebagai tanda yang perlu dimiliki, kita dapat berbicara tentang suatu tahap pengalaman yang sama. Pendapat saya ialah bahwa Alkitab mengatakan orang percaya siapa saja dapat menikmati pemenuhan Roh Kudus, dan mengenal kuasa-Nya walaupun ia belum pernah mempunyai suatu tanda seperti berbahasa lidah. Pada waktu pemenuhan yang khusus, mungkin berbahasa lidah dapat jadi tanda yang diberikan Allah kepada sebagian orang, tetapi saya tidak mendapatkan bahwa tanda yang demikian itu untuk semua. Saya pikir, penting sekali bagi kita untuk memegang pendapat kita tanpa membenci dan tanpa memutuskan ikatan persekutuan di dalam Yesus Kristus. Kita menyembah Allah yang sama, dan kita bersyukur untuk hal ini.

Dalam 1 Korintus 14 Paulus dengan pasti mengatakan bahwa bernubuat itu lebih hebat daripada berbahasa lidah. Pada waktu yang bersamaan ia mengatakan, “Janganlah melarang orang yang berkata-lata dengan bahasa roh” (1 Korintus 14:39). Rupanya Paulus berbicara dalam banyak bahasa lidah tetapi ia tidak terlalu menekankan ini. Kita harus berhati-hati untuk tidak menetapkan posisi Roh Kudus seolah-olah Ia harus bekerja menurut cara kita. Roh Kudus adalah mahakuasa; Ia memberikan karunia-Nya menurut kehendak-Nya! Peter Wagner mengatakan: “Harus diingat bahwa tubuh Kristus itu ada di seluruh dunia, dengan banyak manifestasi setempat. Karunia rohani itu diberikan kepada tubuh Kristus sedunia, maka karunia tertentu mungkin terdapat dan mungkin tidak terdapat dalam salah satu bagian tubuh setempat yang khusus. Ini menerangkan mengapa, misalkan, suatu jemaat setempat atau bahkan seluruh denominasi mungkin tidak pernah diberi karunia lidah, sedangkan bagian tubuh lainnya mungkin mendapatnya.”

Kesimpulan. Pertama, ada karunia berbahasa lidah yang sesungguhnya, sekontras dengan yang palsu. Banyak dari mereka yang telah diberi karunia ini telah berubah secara rohani – sebagian sementara saja dan sebagian tetap!

Kedua, Allah memakai bahasa lidah pada waktu tertentu, dalam tempat tertentu, terutama pada garis terdepan dari pengabaran Injil untuk meluaskan kerajaan Allah dan untuk membangun orang-orang percaya.

Ketiga, banyak orang diyakinkan bahwa mungkin kita hidup di dalam zaman yang oleh Firman Tuhan disebut “akhir zaman.” Hosea dan Yoel kedua-duanya meramalkan bahwa di dalam hari-hari itu manifestasi Roh dan karunia-karunia tanda akan muncul kembali. Mungkin kita hidup di dalam zaman sejarah seperti itu. Tentulah kita tidak dapat menutup mata kita bagi kenyataan bahwa banyak dari karunia-karunia tanda yang mempertahankan keaslian Injil, timbul kembali saat ini.

Bertahun-tahun yang lalu dalam sebuah kelas diskusi pada Institut Alkitab Florida, seorang guru mengatakan sesuatu mengenai bahasa lidah yang saya tidak dapat melupakan. Ia menasihatkan pelajar-pelajarnya agar “jangan mencari; jangan melarang.”

Sesungguhnya, berbahasa lidah adalah suatu karunia dari Roh. Zaman sekarang ini ada orang-orang Presbitarian, Baptis, Anglikan, Lutheran dan Metodis, demikian juga Pentakosta, yang berkata-kata dalam bahasa lidah – atau yang belum pernah, dan tidak mengharapkannya.

Tetapi jika berbahasa lidah itu karunia dari Roh Kudus, ia tidak akan dapat memecah belah. Jika mereka yang berbahasa lidah salah menggunakannya maka ia menjadi pemecah belah. Itu menandakan tidak ada kasih. Dan mereka yang melarangnya juga dapat membingungkan Gereja sebab rupanya berlawanan dengan ajaran Rasul Paulus. Orang-orang percaya yang berbahasa lidah dan yang tidak, hendaknya saling mengasihi dan bekerja untuk lebih memuliakan Allah dalam penginjilan dunia. Ingat satu hal: mereka yang berbahasa lidah dan yang tidak akan hidup bersama di dalam Yerusalem Baru.

Apakah ini merupakan karunia yang Tuhan anggap cocok bagi Anda? Jangan biarkan karunia itu menjadi sumber kesombongan atau keasyikan. Biarlah kita berakar di dalam keseluruhan Firman Allah. Dan di atas semua, belajarlah apa artinya saling mengasihi, termasuk orang-orang yang tidak setuju dengan keyakinan Anda.

Apakah ini merupakan karunia yang tidak Anda miliki? Jangan biarkan itu menguasai pikiran Anda juga. Dan janganlah menjadikannya sebagai sumber pemecah belah di antara Anda dengan orang percaya lainnya kalau hal itu mungkin. Mungkin ada orang percaya lainnya yang mempunyai keyakinan yang berbeda dari Anda, tetapi mereka masih tetap sebagai saudara di dalam Kristus.

Di atas semuanya, kita dipanggil untuk “hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (Galatia 5:16).

Karunia-karunia tanda – kesembuhan , tanda-tanda mujizat, dan berbahasa lidah – mungkin sama dengan daya tariknya pada abad pertama seperti sekarang. Tanda-tanda itu kadang-kadang menyebabkan kebingungan dan penyalahgunaan pada abad pertama seperti yang terjadi pada zaman sekarang. Walaupun demikian, Allah Roh Kudus memberikan karunia-karunia itu kepada beberapa orang di dalam Gereja, untuk dipakai memuliakan Allah. Karunia-karunia itu tidak boleh dipergunakan untuk alasan yang mementingkan diri sendiri. Mereka juga tidak boleh menjadi sumber pemecah-belah dan kesombongan. Kita jangan sampai dipikat atau terlalu diasyikan olehnya. Terlebih dari semua itu, kapan saja karunia-karunia itu diberikan, karunia-karunia itu harus dipakai hanya menurut prinsip-prinsip yang telah dikemukakan Allah di dalam Alkitab. Kalau demikian jadinya, itu juga akan membawa kesatuan dalam Roh. Dan jika Allah mau memberikan karunia-karunia ini kepada beberapa orang zaman ini, kita seharusnya selalu berdoa agar karunia-karunia itu dipakai “untuk kepentingan bersama” (1 Korintus 12:7) dan untuk memperluas Kerajaan Allah.



* Dikutip dari:
Roh Kudus, Oleh: Billy Graham
Diterjemahkan dan Diterbitkan oleh: Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 1998
ISBN: 979-9043-14-X, Halaman: 272-294
Back to top Go down
View user profile http://profiles.friendster.com/zagayo
Rimen_Chen
Admin
Admin
avatar

Number of posts : 707
Age : 29
Location : Sydney,NSW,Australia
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-18

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sun Nov 04, 2007 9:53 am

Cape dech w baca ceen...!!! Adooo...Jgn cuman copy paste laa...Ambe sri nya keg..adoo...Wew..

Tp, Rasul Paulus mengatakan, ada orang yang mempunyai karunia berbahasa Roh, karunia menafsirkan, dll...Ok..Bukankah ini tersirat bahwa tidak smua org bisa..??
Trus, dalam gereja, haruslah tidak selalu menekankan bahasa lidah, soalnya ,apa ada yang menerjemahkannya?kolo gak ada yang terjemahin, gimana bangun jemaat?
Back to top Go down
View user profile
Rimen_Chen
Admin
Admin
avatar

Number of posts : 707
Age : 29
Location : Sydney,NSW,Australia
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-18

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sun Nov 04, 2007 10:05 am

Passage 1 Corinthians 14:16-24:
16 For if you praise God only in the spirit, how can those who don’t understand you praise God along with you? How can they join you in giving thanks when they don’t understand what you are saying? 17 You will be giving thanks very well, but it won’t strengthen the people who hear you.

18 I thank God that I speak in tongues more than any of you. 19 But in a church meeting I would rather speak five understandable words to help others than ten thousand words in an unknown language.

20 Dear brothers and sisters, don’t be childish in your understanding of these things. Be innocent as babies when it comes to evil, but be mature in understanding matters of this kind. 21 It is written in the Scriptures[a]:

“I will speak to my own people
through strange languages
and through the lips of foreigners.
But even then, they will not listen to me,”[b]
says the Lord.

22 So you see that speaking in tongues is a sign, not for believers, but for unbelievers. Prophecy, however, is for the benefit of believers, not unbelievers. 23 Even so, if unbelievers or people who don’t understand these things come into your church meeting and hear everyone speaking in an unknown language, they will think you are crazy. 24 But if all of you are prophesying, and unbelievers or people who don’t understand these things come into your meeting, they will be convicted of sin and judged by what you say.
Back to top Go down
View user profile
Raffin
Confeito Soldier
Confeito Soldier


Number of posts : 21
Age : 28
Reputation :
0 / 1000 / 100

Registration date : 2007-10-17

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Sun Nov 04, 2007 11:36 am

Rimen memang tujuan berbahasa roh tuh bukan untuk membangun orang lain tapi untuk membangun diri sendiri. Speaking in tongue is to edifying ourselves but interpreting tongue is to edifying the church. But how can someone edifying the church if he himself hasn't been edified?

Jadi tujuan berbahasa lidah tu memang buat membangun diri sendiri. Kita berdoa dan berkomunikasi dengan Tuhan. Dan juga bahasa roh tuh memang untuk baby christian. Ato dengan kata laen orang yang baru dilahirkan kembali ato reborn.
Back to top Go down
View user profile
Rimen_Chen
Admin
Admin
avatar

Number of posts : 707
Age : 29
Location : Sydney,NSW,Australia
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-18

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Mon Nov 05, 2007 4:22 am

Iya la...W gak mau komen lagi...Tergantung juga sebenarnya..
Back to top Go down
View user profile
Denise
Confeito Second Sergeant
Confeito Second Sergeant
avatar

Number of posts : 57
Age : 29
Location : Depok-Jakarta
Reputation :
0 / 1000 / 100

Registration date : 2007-10-24

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Mon Nov 05, 2007 12:26 pm

:affraid:
@raf
ti a, lu da bisa bahasa roh?????
den ai nanya ni,
kalo kita berbahasa roh, kita ngerti ga sih yg kita omongin apa?
kan lu blg dlm keadaan sadar?
bukannya rasul Paulus berbahasa roh dalam keadaan tidak sadar???
gmn bisa belajar bahasa roh sih?
Back to top Go down
View user profile
Raffin
Confeito Soldier
Confeito Soldier


Number of posts : 21
Age : 28
Reputation :
0 / 1000 / 100

Registration date : 2007-10-17

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Mon Nov 05, 2007 1:05 pm

Iya da bisa tapi bukan belajar. Bahasa roh itu salah satu dari spiritual gift yang bakal diberikan pada saat kita menerima Roh Kudus. Jadi diberikan bukan dipelajari. He2. Rasul Paulus dalam keadaan sadar juga kok. Nah bedanya tuh kalo berbicara bahasa roh itu tidak bisa dimengerti, kita berbicara secara misterius secara langsung kepada Tuhan.

@Rimen
Eh jangan ngambek dong w kan cuma memberi pendapat ja. Ok2?
Back to top Go down
View user profile
zagayo
Vice Webmaster
Vice Webmaster
avatar

Number of posts : 546
Age : 29
Location : Kemanggisan, Jakbar
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Mon Nov 05, 2007 1:44 pm

kok maen ngambek2 sehh???

:lol!: :lol!: :lol!: :lol!: :lol!:
Back to top Go down
View user profile http://profiles.friendster.com/zagayo
fishball
Webmaster
Webmaster
avatar

Number of posts : 656
Age : 29
Location : Curva Nord
Reputation :
99 / 10099 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Mon Nov 05, 2007 1:59 pm

hah?? raf da bisa??? ajarin gw. . gw mau menambah perbendaharaan bahasa gw neh

_________________


My Japanese name is : Saruwatari Takeshi (猿渡鷹志)
Back to top Go down
View user profile http://confeito.forumotion.com
Raffin
Confeito Soldier
Confeito Soldier


Number of posts : 21
Age : 28
Reputation :
0 / 1000 / 100

Registration date : 2007-10-17

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Mon Nov 05, 2007 3:22 pm

Ha? Ngajarin? G bisa dipelajari suib tapi w bisa doakan en u sendiri harus ada keinginan hati tuk menerima Roh Kudus en terlebih dahulu menerima Yesus sebagai Juruslamat. Biz tu baru bisa.

Btw feb kok g post ya? Feb! Feb! post dong
Back to top Go down
View user profile
fishball
Webmaster
Webmaster
avatar

Number of posts : 656
Age : 29
Location : Curva Nord
Reputation :
99 / 10099 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Mon Nov 05, 2007 7:54 pm

zz raf da dibilang feb lagi ke pineng, KL, Sing buat ujian SAT. . . tar bbrp ari lg juga loe bakal ketemu dia gw rasa. .

_________________


My Japanese name is : Saruwatari Takeshi (猿渡鷹志)
Back to top Go down
View user profile http://confeito.forumotion.com
febbry01
Confeito Second Sergeant
Confeito Second Sergeant
avatar

Number of posts : 82
Age : 29
Location : still medan
Reputation :
0 / 1000 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: comment   Mon Nov 05, 2007 9:53 pm

sori yah br comment..

hm, ttg bhs roh ya?
kekny w g prl tambah ap2 gi.
ap yg dijelasin tmn2 smua da mencakup smuany..

skali gi w cm tegasin, bhs roh bertujuan bt menguatkan roh qta, beda dg nubuat utk membangun jemaat (tu ad ayatnya)

manusia yg da baptis sekalipun, kdg2 pst bs jth. nah, dlm hal ini, kek yg raf blg, Roh Kudus bekerja, dan lwt berbahasa roh, qta pasti dikuatin n dijauhin dr hal2 gt..

wkt dpt bahasa roh tu pengalamanny beda2..
ad yg macem kesengat listrik dr bwh ke atas n othwise, gemetaran g menentu, ato bhkn krn trll haus bt muji Tuhan, jd tb2 dpt bhs roh. jg ad yg stlh dijamah jatuh, lgsg bs kepenuhan bhs roh. yg terpenting, qta mst BERANI N MULAI bt berbahasa roh!! ad yg da dpt, tp pussy2 alias malu2, tu yg g blh.. mslhny, plg byk tmn2 ragu gini, mrk pd tkt tu bkn karunia bhs roh, tp cm perasaan mrk doang. nah, w cm mau bantu tmn2 bt tau gmn cara tau tu perasaan doang ato bkn. pertama, doa (blh minta, bkn bljr), baptis roh kudus kek yg raf da blg, n stlh tu yakinlah, dgn keyakinan, tmn2 PASTI bs dpt, hoho..

berbahasa roh mmg di atas alam sadar kok, alias qta sadar qta gi berbahasa roh, cm ya g ngrt ap maknany, krn dlm bahasa roh, Roh Kudus yg mentranslate speechless words qta ke Tuhan..

kekny tambahan w da kepanjangan bgt, hehe..

any other question? i ll try to help as well as possible


Last edited by on Tue Nov 06, 2007 11:18 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
zagayo
Vice Webmaster
Vice Webmaster
avatar

Number of posts : 546
Age : 29
Location : Kemanggisan, Jakbar
Reputation :
1 / 1001 / 100

Registration date : 2007-10-16

PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   Mon Nov 05, 2007 11:51 pm

hmm......

naizzzzzzz....

yg laen gimana>? :lol!:
Back to top Go down
View user profile http://profiles.friendster.com/zagayo
Sponsored content




PostSubject: Re: Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi   

Back to top Go down
 
Bukan bermaksud menimbulkan kontroversi
Back to top 
Page 1 of 4Go to page : 1, 2, 3, 4  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Confeito Board :: Rohani Club-
Jump to: